Srawung Kampung-Kota

Rp 70.000

Author: Akhmad Ramdhon, dkk
Editor: Akhmad Ramdhon & Siti Zunariyah
ISBN: 978-602-5583-52-0

Satu dekade lebih, narasi kota-kota di Indonesia mengalami banyak perubahan yang bersifat fundamental, dimana pemicu utamanya adalah bergesernya bandul kekuasaan yang bergerak dari pusat ke daerah. Nalar desentralisasi serta merta menjadi titik mula gelombang proses, dinamika maupun perubahan yang terjadi dalam beragam dimensi. Ada banyak kebimbangan untuk mencari bentuk dari perubahan yang bersifat transisi maupun tantangan untuk merespon ketimpangan yang ada. Sebab beragam kisah yang hadir sesudahnya adalah gambar tentang kota yang tumbuh dalam ragam kepentingan, dan tak lagi menempatkan negara sebagai orientasi tunggal tapi juga kepentingan-kepentingan politis, modal maupun kombinasi keduanya.

Skema kota yang lahir dalam beberapa dekade terakhir adalah perubahan dengan lapis praktek-praktek kekuasaan yang tersebar. Tersebar oleh kemungkinan untuk membangun kebijakan dan kepentingan kota tidak hanya dari nalar negara namun juga membesarnya peluang bagi keterlibatan publik secara lebih luas. Namun publik kota nan luas dan tersebar dikampung-kampung, tetap menjadi potret gelap dari kota yang tumbuh terlalu cepat, dan melaju dalam kepentingan yang semakin tak terjangkau oleh warga. Relasi kampung-kota juga mengalami pergeseran oleh sebab pergerakan kota yang liar, sekaligus kesediaan menahan beban dari skenario kota yang harus tumbuh menjulang ke atas. Setiap ruang dalam kampung-kota lalu hadir sekadar menyangga berbagai kebutuhan kota untuk mampu memenuhi indikator perubahan sekaligus penanda kemajuan.

Buku ini, mencoba memberi paparan bagaimana wajah kota dibentuk oleh narasi-narasi yang disusun dari kepingan perubahan yang terjadi dikampung-kampung. Ada kemungkinan kota dan kampung hadir bersamaan sebagai sebuah relasi namun tak sebanding. Namun besar kemungkinan, kota dan kampung hadir tidak bersamaan karena ketiadaan orientasi nan kolektif. Konsekuensi dari dua kondisi tersebut tetaplah sama bahwa kampung-kota hadir jadi hanya sebagai pelengkap dari narasi-narasi kota yang dibentuk oleh kepentingan kapital.

Scroll to Top