Merayakan Negara Mematrikan Tradisi: Narasi Perubahan Kampung-Kota Di Surakarta

Rp 55.000

Available in: PDF
ISBN: 978-602-5583-25-4

Temukan di Google Play Buku

Kota-kota di nusantara lahir dalam jejak panjang sejarah sebagai bentuk dari bingkai yang membentuk Indonesia hari ini. Pemahaman tersebut memberi bekal untuk memaknai kekinian kota agar tak lepas dari konstruksi yang memanjang ke belakang. Tentu tidak semua kota-kota yang hari ini hadir adalah konstruksi masa lalu, sebab sebagian diantaranya merupakan medan baru yang terbangun sebagai akibat dari tumbuh kembangnya kota yang kian meluas.

Sedangkan bagi kota yang mempunyai akar yang terbangun oleh eksistensi kekuasaan tradisional dan mengalami akselerasi oleh ekspansi kolonialisasi bersama kepentingan ekonomi dan politik.

Surakarta merupakan salah satu kota yang berjejak kuat ke belakang, diantara sejarah kota yang terdapat di nusantara. Sejarah yang ada, meninggalkan beragam catatan tentang dinamika yang dialami oleh setiap ruang kota, baik secara fisik maupun non fisik. Dan semua proses yang pernah ada, bertranformasi hingga hari ini sekaligus membentuk mental warga kota dialam modern.

Buku ini, mencoba memberi paparan bagaimana kota dibangun dari lempengan sejarah yang terbingkai atas masa lalu dalam ruang dan narasi kampung. Kampung-kampung membentuk kota dalam relasinya dengan beragam bentuk kepentingan dan kota memberi efek bagaimana kampung mendefi nisikan dirinya ditengah arus perubahan yang deras. Kontestasi yang ada membentuk karakter ruang dan mentalitas yang dinamis bagi warganya. Eksistensi kampung kemudian ditentukan oleh orientasi kepentingan yang terbangun lewat penegakan otoritas kekuasaan, sekaligus pemaknaan atas tantangan yang dihadirkan oleh gelombang perubahan yang tak terhindarkan.

Mengambil setting kampung-kota di Surakarta yang mengalami beragam penggalan zaman dan transisi perubahan, beragam kontestasi nilai pada akhirnya membentuk tipikal masyarakat yang khas. Dipantik dari perpindahan Kartasura ke Surakarta, ekspansi kolonialisasi dan transisi nan konfl iktual bersamaan pekik kemerdekaan.

Semuanya memberi residu bagi kampung-kota ketika harus berhadapan dengan transisi kekuasaan pada setiap Orde. Dinamika di kota ternyata tak kunjung usai, karena transisi Orde Baru ke Orde Reformasi sebagai efek krisis moneter dalam skala nasional memberi kenyataan bahwa kota harus berhadapan dengan kerusuhan massa yang meluluh lantakan kota.

Sebuah kondisi yang teramat berat bagi warga kota dan pada saat bersamaan menjadi momentum untuk bergerak bersama dirilisnya otonomi daerah. Surakarta bergerak dalam pilihan-pilihan untuk belajar atas semua pengalaman yang ada.

Buku ini hendak melihat beragam perubahan dan dinamika yang ada, mencoba mengurainya dalam kerangka transformasi politik dengan mengambil setting di kampung Baluwarti, konteks agama di kampung Kauman dan ekonomi di kampung Laweyan. Nalar atas ketiganya adalah upaya untuk menjelaskan proses perubahan yang terjadi pada latar kampung, yang tetap terkoneksi dengan kota maupun negara secara langsung.

Bingkai kota menjadi awalan bagi konstruksi besar buku ini sekaligus menjadi penutup untuk memastikan bahwa proses transformasi struktur politik, agama dan ekonomi yang terjadi pada akhirnya membentuk wajah kota hari ini. Desentralisasi memberi momentum bagi warga kota untuk memilih pemimpinnya secara langsung sekaligus terlibat dalam bingkai kebijakan yang ada. Mekanisasi politik yang tercipta lalu memberi peluang lebih besar bagi warga kota untuk mengambil porsi, bersama stakeholder dan memastikan arah pembangunan kota.

Tentu semua proses tersebut tidak mulus, masih terdapat banyak kekurangan dalam beragam dimensi dan kondisi itu menjadi tantangan terus menerus bagi semua warga kota. Namun diatas semua proses yang ada, hiruk pikuk ix kota Surakarta pada akhirnya akan terus memberi ruang bagi warganya memaknai sekaligus mengambil peran didalam proses perubahan tersebut. Tak terkecuali warga kampung-kampung yang makin minor ditengah-tengah kepungan kepentingan kota yang kian membesar dan tak terkendalikan.

Scroll to Top